Powered by Blogger.

Gerakan Non Blok dan Prospek Masa Depan

Gerakan Non Blok dan Prospek Masa Depan
Gerakan Non Blok di Bali
Baru-baru ini Gerakan Non Blok menggelar Konferensi Tingkat Menteri Luar Negeri ke-16 di Bali, Indonesia. Pertemuan itu membahas tentang berbagai masalah penting termasuk transformasi kawasan Timur Tengah, Asia, Afrika dan Amerika Latin, juga masalah hak asasi manusia dan penataan ulang Perserikatan Bangsa-Bangsa. GNB dibentuk tahun 1961 menyusul Konferensi Asia-Afrika yang diselenggarakan di Bandung tahun 1955. Konferensi di Bandung berhasil menetapkan sepuluh pasal tentang asas penghormatan kepada hak asasi manusia, kedaulatan setiap negara, hak rakyat untuk membela diri dan perjanjian internasional. Gerakan Non Blok pun akhirnya dibentuk dan dengan cepat mendapat dukungan bangsa-bangsa di dunia. Keanggotaannya yang meliputi banyak negara di berbagai benua membuat GNB menjadi organisasi terbesar di dunia setelah PBB. Saat ini 118 negara tercatat sebagai anggota GNB sementara 15 negara lainnya dan 8 lembaga internasional menjadi anggota pengawas di organisasi ini.
GNB dibentuk dengan tujuan untuk membantu menyelesaikan berbagai masalah dunia termasuk perlucutan senjata, HAM, terorisme, masalah ekonomi dan berbagai hal yang dihadapi setiap kawasan. Terlepas dari target-target makro, organisasi ini sedang melewati masa-masanya yang paling sensitif dengan adanya kebangkitan rakyat di Timur Tengah dan utara Afrika. Setelah tumbangnya rezim penguasa di Tunisia dan Mesir, gelombang gerakan rakyat tengah menggoncang sendi-sendi kekuasaan rezim di Libya, Bahrain dan Yaman. Perkembangan ini membawa pesan yang mendalam bahwa rakyat punya tuntutan yang mesti didengar dan dipenuhi oleh penguasa. Sebab, ketidakpedulian terhadap tuntutan itu akan berdampak buruk bagi pemerintahan di setiap negara.
Dengan adanya perkembangan ini, dokumen akhir dari konferensi tingkat menteri GNB menyebutkan strategi bersama untuk menghadapi tantangan yang ada di abad 21 serta penguatan kerjasama internasional. Menurut para pengamat, proses perkembangan global telah membuka kesempatan bagi GNB untuk meningkatkan solidaritas menuju tegaknya perdamaian, stabilitas, pembangunan dan demokrasi yang didasarkan pada kehendak bangsa-bangsa di setiap kawasan. Dalam hal ini muncul satu pertanyaan, yaitu apa yang solusi yang dipilih oleh GNB untuk mewujudkan tujuan itu?
Menteri Luar Negeri Iran Ali Akbar Salehi mengenai tantangan yang dihadapi GNB mengatakan, GNB telah melakukan segalanya untuk mencegah terjadinya konfrontasi di era perang dingin. Dengan berakhirnya perang dingin, semua berharap keadaan akan menjadi lebih baik. Namun sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir kebijakan intervensif yang dijalankan negara-negara adidaya dunia yang disertai kepentingan untuk mempertahankan kekuasaan rezim-rezim diktator yang terkadang dilakukan dengan mengklaim penegakan demokrasi dan HAM atau upaya menjaga stabilitas, telah menyulut peperangan yang kejam dan pendudukan sejumlah negara. Contoh dari sepak terjang itu adalah pendudukan Afghanistan dan Irak oleh Amerika Serikat yang telah mengakibatkan terjadi tragedi kemanusiaan dalam skala besar. Negara-negara itu terjebak dalam ancaman ketidakamanan, terorisme, dan ketertinggalan ekonomi.
Meluasnya kepemilikan senjata-senjata pemusnah massal saat ini menjadi ancaman paling menakutkan bagi dunia. Tak heran bila GNB juga menyatakan kecemasannya secara resmi dalam sidang tingkat menteri ke-16 di Bali. Menlu Iran dalam penjelasannya menyinggung hasil keputusan konferensi terakhir peninjauan ulang traktat non proliferasi nuklir seraya mengatakan, bersama sejumlah negara lainnya anggota GNB, Republik Islam Iran mengusulkan pengesahan satu ketentuan hukum yang mengatur tenggang waktu yang pasti dan jelas untuk pelaksanaan pasal enam NPT secara penuh bahwa seluruh senjata nuklir harus dimusnahkan paling lambat tahun 2025. Keengganan Rezim Zionis Israel untuk bergabung dengan NPT, usulan para pemimpin GNB tahun 1974 untuk menciptakan kawasan bebas senjata nuklir di Timur Tengah gagal dilaksanakan.
Para pengamat politik meyakini bahwa negara-negara GNB bisa mewujudkan target dan misinya dengan kerjasama seluruh anggota. Dalam hal ini ditekankan soal partisipasi seluruh anggota GNB secara aktif dalam pengambilan keputusan global untuk mewujudkan dunia yang lebih aman dengan pelaksanaan NPT secara penuh demi mewujudkan dunia stabilitas dan keamanan internasional. Hal ini menjadi masalah yang diprioritaskan oleh GNB. Karena itu, sidang di Bali menghasilkan dokumen bersama tentang partisipasi aktif untuk mewujudkan dunia dengan sistem multipolar lewat kerjasama bilateral dan multilateral di dalam tubuh PBB dan forum-forum internasional. Diupayakan pula penataan kembali PBB dengan format yang lebih baik dan adil.
Hari ini ada keyakinan bersama bahwa GNB bisa memainkan peran yang menonjol untuk memenuhi kekurangan dari kinerja organisasi atau lembaga-lembaga internasional. Para pengamat menilai, akumulasi seluruh potensi politik, ekonomi dan budaya yang ada pada negara-negara anggota akan membuat GNB menjadi sebuah organisasi yang kuat dan besar. Dengan kekuatan ini, GNB bisa memainkan peran besar dan berpengaruh dalam percaturan dunia sekaligus membantu mencegah terjadinya konflik dan sengketa di dunia.
Tahun depan, Iran akan menerima kepemimpinan periodik GNB selama tiga tahun setelah menjadi tuan rumah penyelenggaran Konferensi Tingkat Tinggi. Periode kepemimpinan Iran atas GNB akan dimulai tahun 2012 sampai 2015. Iran menyatakan bahwa dalam kepemimpinnya, negara ini akan berupaya mendekatkan pandangan negara-negara anggota di forum PBB. Salah satu upaya untuk mempererat kerjasama di dalam GNB adalah pembentukan troika yang dianggotai oleh ketua periodik saat ini periode sebelum dan sesudahnya. Pada tahun 2005, sidang tingkat menteri troika GNB yang dianggotai oleh Afrika Selatan, Malaysia dan Kuba di Afrika Selatan. Sidang itu menghasilkan keputusan dukungan kepada program nuklir damai negara-negara anggota yang menandatangani perjanjian NPT termasuk Iran. Dukungan ini sekaligus sebagai penjamin sikap GNB yang membela hak anggotanya untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk keperluan damai.
GNB menegaskan sikapnya yang menentang pengembangan senjata nuklir, yang merupakan senjata destruksi massa yang paling mematikan. Dalam sikapnya, gerakan ini menyatakan menolak kebijakan sejumlah negara tertentu yang terus melakukan peremajaan senjata nuklir dengan alasan untuk menjaga keseimbangan kekuatan di dunia. Apalagi, sebagian pemilik senjata ini mengancam akan menggunakannya melawan negara lain.
Yang jelas, meski dibentuk tahun 1961 sebagai kelompok ketiga di era perang dingin di antara dua kutub kekuatan Barat dan Timur, yang semestinya telah kehilangan posisi setelah keruntuhan blok Timur, namun sebagian besar kalangan memandang GNB harus tetap eksis. Organisasi dengan 118 anggota ini bisa memainkan peran besar untuk menjaga kedamaian dan stabilitas dunia.

Sumber : http://indonesian.irib.ir
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Gerakan Non Blok dan Prospek Masa Depan"

Syukron telah mengomentari tautan blog ini, Insya Alloh jadi refleksi menuju berkemajuan

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top